Proyek Saluran Top-Bottom 200/200 di Tenggumung Wetan Disorot, Pemasangan Box di Genangan Air Dinilai Rawan Ambles

IMG-20260627-WA0015

 

SURABAYA,Jawa timur.Media Liputan Suara GAP -Pekerjaan pembangunan saluran _top-bottom_ ukuran 200/200 gandar 20 ton di Jalan Tenggumung Wetan, tepatnya Jalan Kedung Mangu, yang dikerjakan PT Berlian Karya Teknik dengan nomor kontrak `000.3.3/005/06.2.01.0026.EPC/436.7.3/2029` kini disorot publik. Sejumlah kejanggalan pada proses pemasangan box culvert memicu kekhawatiran warga terkait kualitas dan ketahanan saluran di masa depan.(Sabtu 27-06-2026).

Pantauan awak media online _LIPUTAN SUARA GAP_ di lokasi menunjukkan box culvert tetap diturunkan meski kondisi air di galian masih cukup banyak. Secara teknis, dasar galian seharusnya dikeringkan dan dipadatkan dulu agar box tidak bergeser atau ambles.

 

Saat dikonfirmasi, konsultan pengawas proyek menyatakan “tidak masalah” dengan kondisi tersebut. Alasannya, menurut pengakuan konsultan pengawas kepada media ini, pemasangan tetap boleh dilakukan asalkan box masih terlihat dari permukaan air.

 

Lebih lanjut, konsultan pengawas menyebut arahan itu datang dari pihak Dinas. “Yang penting box masih kelihatan,” ujarnya saat ditanya awak media.

 

Informasi dari lapangan menyebut pemasangan box yang tidak sesuai spek justru mendapat dukungan dari pihak Dinas. Seharusnya, kata sejumlah sumber di lokasi, pihak terkait memberikan pengarahan atau teguran agar pekerjaan sesuai standar teknis. Tujuannya agar proyek tidak rawan ambles ketika sudah dioperasikan dan dilewati beban gandar 20 ton.

 

Warga Tenggumung Wetan mengaku cemas. Saluran _top-bottom_ 200/200 ini memang diproyeksikan untuk menampung debit air hujan dan dilintasi kendaraan berat. Jika pondasi box dipasang dalam kondisi tergenang, risiko penurunan, rembesan, dan kerusakan struktur jadi lebih besar.

 

“Kalau dari awal sudah asal jadi, nanti pas hujan deras malah jebol lagi. Kami yang rugi, jalan Kedung Mangu pasti banjir,” ujar salah satu warga yang enggan disebut namanya.

Jika box dipasang saat air masih banyak dan daya dukung tanah dasar tidak bisa dicapai maksimal. Beban gandar 20 ton yang menjadi target proyek bisa memicu penurunan tidak merata dan sambungan antar box jadi renggang.

Hingga berita ini ditulis, PT Berlian Karya Teknik selaku pelaksana belum memberikan klarifikasi resmi. Konfirmasi juga masih diupayakan ke Dinas terkait untuk menanyakan kebenaran arahan “yang penting box kelihatan” dan standar pengawasan yang diterapkan.

 

Tim media berupaya menghubungi konsultan pengawas dan PPK proyek dengan nomor kontrak `000.3.3/005/06.2.01.0026.EPC/436.7.3/2029` guna mendapat penjelasan berimbang.

 

Warga dan pemerhati infrastruktur berharap ada evaluasi menyeluruh sebelum proyek diserahterimakan. Jika memang ada prosedur yang dilanggar, maka perlu ada perbaikan atau pembongkaran ulang bagian yang rawan.

 

“Jangan sampai proyek miliaran ini baru setahun sudah ambles. Lebih baik ditegur sekarang, dikasih pengarahan, daripada nanti makan korban dan anggaran perbaikan lagi,” kata tokoh masyarakat setempat.

 

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pengawasan mutu di lapangan tidak boleh kendor. Proyek infrastruktur harus mengutamakan mutu, bukan sekadar “asal jadi dan kelihatan”.

 

Pihak-pihak yang disebut dalam berita ini berhak memberikan hak jawab dan klarifikasi. Redaksi terbuka untuk memuat penjelasan resmi dari PT Berlian Karya Teknik, konsultan pengawas, maupun Dinas terkait._

Penulis: Nur holis
Editor : Admin GAP

You cannot copy content of this page